Kamis, 25 Agustus 2016

Penggunaan dan Pemanfaatan Informasi Geospasial

Penggunaan dan pemanfaatan informasi Geospasial (IG) dalam berbagai sektor semakin meningkat seiring dengan meningkatnya kualitas kebijakan dan keputusan yang diambil dengan mendasarkan kepada IG. Badan Informasi Geospasial (BIG) sebagaimana UU Nomor 4 Tahun 2011 punya peran penting dan strategis dalam menyelenggarakan dan mengelola data geospasial sebagai basis dalam perencanaan dan pembangunan nasional.
“Peta Rupabumi salah satunya merupakan produk geospasial yang punya peran penting dalam penyelenggaraan informasi spasial,’tutur Plt. Deputi Bidang IGD Badan Informasi Geospasial,Edwin Hendrayana, pada Workshop Pemanfaatan InSAR Untuk Pemetaan Topografi dan Tematik di KPFT UGM, Jumat (28/6). Workshop diselenggarakan oleh Jurusan Teknik Geodesi Fakultas Teknik.
Saat ini, sumber data dasar utama untuk pemetaan rupabumi adalah foto udara, LiDAR dan radar. Menurut Edwin teknologi fotogrametri yang selama ini dianggap sebagai teknologi yang paling mumpuni dalam menghasilkan data utama pemetaan rupabumi tetap saja memiliki kelemahan terhadap penyediaan data yang bebas awan.
Hingga sekarang masih terus berkembang teknologi radargrammetry maupun Interferometry Synthetic Aperture Radar (InSAR) yang mampu menghasilkan data model ketinggian (DEM) dengan akurasi yang semakin baik seperti Ifsar dan yang ditunggu-tunggu yakni Tandem TerraSAR-X.
“InSAR tidak terbatas untuk rupabumi tetapi juga dapat sebagai acuan pemetaan batas wilayah,”katanya.
Di bidang geologi, data radar atau InSAR dipakai sebagai data utama untuk interpretasi unsur bentang alam dan struktur geologi dalam pembuatan peta geologi. Pada bidang pertambangan dapat juga menggunakan data radar karena kemampuannya memberikan b geomorfologi. Pemanfaatan data InSAR juga dapat diimplementasikan untuk pemetaan bencana seperti bencana banjir, tanah longsor hingga memprediksi gempa bumi.

“Pemanfaatan data radar dan InSAR juga harus diimbangi dengan peningkatan kualitas dan kuantitas SDM,”tegas Edwin

Sistem Informasi Geospatial

Apa itu GIS??
Sistem Informasi Geografis (SIG) atau Geographic Information System (GIS) diartikan sebagai sistem informasi yang digunakan untuk memasukkan, menyimpan, mengolah, menganalisis dan menghasilkan data yang bereferensi atau datageografis geospatial, untuk mendukung pengambilan keputusan dalam perencanaan dan pengelolaan penggunaan lahan, sumber daya alam, lingkungan, transportasi, fasilitas kota, dan pelayanan umum lainnya. (Murai S. dalam Prayitno, 2000).
Dalam perkembangannya, Sistem informasi Geografis sangat diperlukan mengingat data yang ada amat besar. Berikut merupakan manajemen informasi geospasial perbandingan antara menggunakan SIG/GIS dan cara manual.
Menggunakan SIG/GIS
Cara manual
Penyimpanan
Database digital dan terpadu
Skala dan standart berbeda
Pemanggilan kembali
Pencarian dengan komputer
Cek manual
Pemuktahiran
Sistematis
Mahal dan memakan waktu
Analisis data atribut
Sangat cepat
Memakan waktu dan tenaga
Analisis data spasial
Mudah
Rumit
Penayangan
Murah dan cepat
mahal
Dalam Bumi ini terdapat berbagai macam hal objek yang dapat kita temukan, seperti air, Gunung, Lautan, Jalan, Objek wisata ata apapun yang berkaitan dengan keruangan merupakan sumber data dalam basis data Geospasial
Dalam penyajiannya SIG memiliki 2 macam model data.
1.Data raster
·         Mempunyai struktur data yang tersusun dalam bentuk matriks atau piksel dan membentuk grid
·         Setiap piksel memiliki nilai tertentu dan memiliki atribut sendiri,termasuk nilai koordinat
·         Contoh : Peta Citra
2.Data Vektor
·         Model berbasiskan titik dengan koordinat untuk membangun obyek spasialnya
·         Obyek yang dibangun :
o    Titik
o    Garis
o    Poligon
·         Contoh : Peta analog/ peta Atlas
Keuntungan dan keterbatasan model data grafis digital :
Data raster membutuhkan ruang penyimpanan yang lebih besar dari pada data vektor
Data vektor mempunyai kemampuan penampilan kemballi lebih baik dari
data raster, karena data raster sangat tergantung pada besar kecilnya
resolusi yang digunakan
• Proses perhitungan, misalnya dalam analisis overlay, data vektor
memerlukan algoritma yang lebih kompleks, memakan waktu lebih lama
• Pemanfaatan data vektor utamanya merupakan bahan baku dalam bentuk
data spasial keperluan SIG, sedang data raster merupakan bahan baku
pembentuk citra (image) pada sistem penginderaan jauh.
Berikut ini merupakan analisis dalam basis data Geospasial
DATA GRAFIS (GRAPHIC DATA)
continuous: elevasi, curah hujan, salinitas air laut
 area:
 unbounded: penggunaan lahan, area pasar, jenis tanah, jenis batuan
– bounded: batas kota/negara, persil
– moving: massa udara, kumpulan binatang, kumpulan ikan
 networks: jalan, pipa/kabel transmisi, sungai
 points:
– fixed: sumur, lampu jalan, alamat
– moving: mobil, ikan, rusa
DATA ATTRIBUT (ATRIBUTE DATA)
* Categorical (name):
– nominal
• tidak ada tingkatan/urutan (ordering)
contoh : tipe penggunaan lahan, nama kota
– ordinal
• ada tingkatan/urutan (ordering)
• kelas jalan, orde sungai
• tidak bisa digunakan untuk perhitungan aritmatika
* Numerical
– interval
• tidak mempunyai nilai nol mutlak
• tidak dapat dikatakan lebih dari 2x
contoh : temperatur (Celsius atau Fahrenheit)
– ratio
• mempunyai nilai nol mutlak
• dapat dikatakan lebih dari 2x
• disajikan dalam tipe integer atau floating point [decimal fraction] sehingga
dapat dipergunakan untuk perhitungan aritmatika
contoh : pendapatan, umur, curah hujan